Kamis, 10 Oktober 2013

Hukum Bayi tabung / Inseminasi Buatan menurut ISLAM

bjBayi tabung / inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sel sperma dan Ovum suami istri sendiri dan tidak di tranfer embrionya kedalam rahim wanita lain termasut istrinya sendiri yang lain ( bagi suami yang berpoligami). maka islam membenarkan bayik dengan cara mengambilm sperna suami maupun dengan cara pembuahan dilakukan diluar lahim kemudia buahnnya (vertilized ovum) ditanam didalam rahim istri asal keadaan keadaan suami-istri yang bersangkutan bener-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperolehi anak, karena dengan cara pembuahan alami suami-istri tidak berhasir memperoleh anak.
Hal ini sesuai dengan kaidah Hukum Fiqh :
Yang artinya : hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) di perlakukan seperti dalam keadaan terpaksa ( emergenci).
padahal dalam keadaan darurat atau terpaksa itu membolehkan melakukan ha-hal yang terlarang.

menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’I yang dapat menjadi landasan hukum untuk mengharamkan inseminansi buatan dengan donor :

1. Al-quran Surat al-isra
yang artinya : dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami angkut mereka di daratan dan lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebayakan makluk yang telah kami ciptakan.
dan Surat Al- tin
yang artinya : Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaaik-baiknya. 

2. Hadist Nabi :
Yang artinya : Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan Airnya atau spermanya pada tanaman Orang lain ( Vagina Istri orang lain) Hadist riwayat abu daut, altirmizi, dan hadist ini dipandang sahih oleh Ibnu Huban.

Dengan hadist ini para ulama mazhab sepakat mengharamkan seseorang mengawini/melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari orazng lain yang mempunyai ikatan perkawinan yang sah. tetapi mereka berbeda pendapat: apakah sah atau tidak seorang pria menikahi wanita hamil dari orang lain akibat zinah?
menurut mazhab hambali, wanita tersebut tidak boleh dinikahi oleh pria yang tidak menghamilinya sebelum lahir kandungannya. sebab dia itu terkena iddah.
zufar al-khanafi juga bersepakat dengan mazhab hambali.
sedangkan mazhab syafi’I membolehkan wanita hamil tersebut dikawini oleh orang yang tidak menghamiilinya tanpa harus menggu lahir bayinya, sebab anak yang dikandungnya itu tidak ada hubungan nazab dengan pria yang berjinah yang menghamili ibunya.


3. kaidah hukum fiqih islam :
yang artinya: menghindari mudarat (bahaya) haru didahulukan atas mencari atau menarik masalah atau kebaikan.

mengenai status atau anak hasil inseminasi dengan donor sperma dan ovum menurut hukum islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil rostitusi. dan kalau kita perhatiakan bunyi pasal 42 UU perkawinan nomor 1/1974 : anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah,

Solusi :

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share It

Pengikut